Tak adakah sesuatu pun dalam hidup ini yang bisa kulakukan dengan benar? Apakah aku lebih bodoh dan lemah dari orang rata-rata sehingga hanya bisa mengkonseptualisasikan ideal-ideal yang indah tanpa mempu mewujudkannya? Rasanya aku tak berbeda dari orang lain... aku hanya ingin menjalani hidup yang berhasil dengan itikad yang baik. Namun seperti kata pepatah, good intentions are not good enough, karena apa yang diperhitungkan orang adalah apa yang benar-benar kauwujudkan.
Orang-orang lain bisa, kenapa kamu tidak? Begitu sepertinya dunia bertanya kepadaku. Dewasa ini semakin jarang orang mengucapkannya secara harafiah kepadaku, tetapi kejadian-kejadian di sekitarku sepertinya mengolok-olokku di depan mata. Aku bukannya tidak bersukacita dengan keberhasilan teman-teman di sekitarku; hanya agak kecewa bahwa hal-hal itu belum terwujud dalam kehidupanku. Sepertinya seiring berjalannya waktu langkah-langkah menuju ke saja tidak menjadi semakin jelas, dan jalannya tidak bertambah mudah.
Sesulit inikah pencapaian prestasi yang berarti dan berkesinambungan dalam hidup? Apakah anganku yang terlalu mengada-ada, sehingga aku hidup dalam fatamorgana yang senantiasa mengecewakan? Atau aku yang bodoh, sehingga untuk menaklukkan tantangan biasa saja tak bisa?
Kurasa hal-hal yang kuinginkan sebenarnya simpel dan realistis. Aku ingin mengalami kepenuhan dunia kampus: raising the bar, testing my limits, expanding my horizons, dan membangun persahabatan-persahabatan bermakna untuk mencicipi perjalanan ini bersama. Aku ingin dibawa mengarungi medan-medan di luar dugaanku, menuntaskannya dengan unggul, dan merayakan kelulusanku. Aku ingin mempunyai karir: menghabiskan hari-hari produktifku mengerjakan sesuatu yang kucintai, menjadikan dunia beberapa orang lebih baik karenanya, dan dikenali karena keunggulanku. Aku ingin menghasilkan cukup uang untuk menyokong diriku, menyenangkan orang-orang yang kukasihi, dan beramal untuk wacana-wacana yang kupedulikan. Aku ingin punya pelayanan dengan dampak signifikan, membawa orang mengenal Penciptanya, dan menyadari betapa bernilainya mereka di dalam Dia.
Kalau banyak orang seusiaku dan lebih muda bisa mewujudkannya, kenapa aku tidak? Secara akademis aku tidak kalah dengan mereka. Secara kualitas kerja, aku tidak kurang kompeten dibandingkan mereka. Secara etos kerja, aku tidak kurang kerja keras dibandingkan mereka. Secara karakter aku tidak lebih buruk dari mereka. Seharusnya aku bisa mengerjakan hal-hal yang mereka kerjakan! Aku hanya perlu waktu, tempat, dan kesempatan. Kalau aku tak bisa bergantung kepada orang lain untuk memberikan ketiganya itu, berarti aku harus berusaha menciptakannya sendiri.
Namun kenyataannya aku telah bertahun-tahun mengusahakannya, seakan tanpa hasil konkret yang permanen. Kuliah tanpa pertimbangan masak, empat kali kandas, dan di kali kelima ini kondisi kampusku terasa begitu memprihatinkan dibandingkan kampus-kampusku yang dulu. Ketika remaja niatku untuk bekerja selalu dihalangi oleh orangtuaku yang takut kuliahku terganggu, dan ketika aku bersikeras mengejarnya juga justru hidupku menjadi kacau. Kini aku belum berhasil juga merintis karir yang permanen, dan merasa semakin sulit bersaing dengan mereka yang lebih muda tetapi lebih berpengalaman. Kalau karir saja belum kunjung established, bagaimana mau punya penghasilan sendiri? Pelayananku pun sepertinya dari dulu belum beranjak dari level perintisan.
Sepertinya dalam segala usahaku mewujudkan sesuatu yang baik selalu ada saja yang salah di mata dunia. Aku tak mau menjadikan "kehendak Tuhan" dan "blessing in disguise" sebagai alasan untuk membenarkannya. Memaafkan diri sendiri dan orang lain yang telah andil dalam menjadikan kehidupanku seperti ini bukanlah hal yang mudah, tetapi itulah satu-satunya hal yang benar untuk dilakukan jika aku mau maju. Aku hanya ingin, untuk pertama kalinya dalam hidupku dan untuk seterusnya, merasakan bahwa kehadiranku di dunia serta hal-hal yang kukerjakan memang benar dan menghasilkan hasil yang benar juga.
Sulit untuk tidak merasa pahit apabila sekarang orangtuaku mendesakku untuk bekerja, padahal dulu mereka yang selalu melarangku. Muak aku apabila mereka mengeluh tentang jumlah kecil uang saku yang mereka berikan padaku, padahal mereka menghabiskan jauh lebih banyak untuk mendukung gaya hidup mereka yang berfoya-foya dan membayar gengsi mereka di depan saudara-saudara yang secara ekonomi tak seberuntung kami. Sementara itu, semua hal yang kukerjakan dalam kuliah dan pelayananku--hal-hal yang membuatku sedikit lebih bahagia dan berbangga atas hidupku--itu sepertinya sangat kecil di mata mereka hingga tak layak untuk dihargai. Lalu kalau aku mengeluh karena hidupku terasa begitu kosong dan mengecewakan, mereka menyalahkanku karena dari dulu aku selalu melawan. Achh, kenapa selalu aku dan hanya aku yang salah?
Kini aku merasa sangat sulit untuk menurut, karena aku merasa setiap otoritas yang seharusnya dapat kupercaya telah memanfaatkanku untuk kepentingan mereka sendiri dan lebih banyak mengorbankanku daripada membangunku. Karena sulit untuk taat, aku kerapkali merasa kesulitan dalam pelayanan dan kuliah, dan mungkin karena itu juga takut "terikat" dalam pekerjaan. Aku cenderung apatis terhadap orangtuaku karena tidak yakin bahwa mereka benar-benar peduli untuk memaksimalkan potensiku, hanya cari enaknya saja dalam membesarkan anak sulungnya yang belum kunjung jadi orang ini. Aku sulit mempercayai kebanyakan orang, karena sepertinya untuk memperoleh kasih mereka aku harus membuktikan janji-janji yang sulit kutepati. Dan kalaupun janji-janji itu kutepati siapa yang bisa menjamin bahwa mereka takkan mengkhianatiku?
Mungkin orang kaget membaca tulisan semacam ini keluar dariku, yang biasanya tampil optimis dan percaya diri. Kehidupanku tidak seindah apa yang kutampilkan secara profesional. Tak banyak yang bisa kubanggakan dalam kehidupanku. Kurasa Tuhan belum selesai mengajarkanku untuk tidak menaruh rasa amanku pada prestasi dan narsisisme. Bukan berarti itu mengesahkan keadaan hidupku yang belum kunjung menghasilkan ini. Aku hanya belum mengerti bagaimana "damai sejahtera" untuk menerima kisah hidupku apa adanya bisa akhirnya membuat suatu terobosan konkret yang permanen dalam hidupku.
Banyak orang pernah menyatakan iri padaku karena mereka memandangku sebagai seorang bibit unggul yang berbakat, punya semangat hidup dan cita-cita tinggi, orangtua terpandang yang reputasinya jujur, kecukupan ekonomi, wawasan luas, dan tidak kurang kasih sayang. Di satu sisi, aku sangat mensyukuri hal-hal ini, dan tak akan menukarnya dengan status, prestige, atau prestasi apapun. Namun di sisi lain, berkat-berkat ini seringkali terasa seperti teori belaka karena aku tak merasa mengalami prakteknya dalam bentuk prestasi yang terbukti, atau setidaknya kemampuanku untuk menyokong diri sendiri di usiaku yang tak lagi muda ini.
Ini adalah hal-hal yang sedang kugumuli dalam masa pranikah; hal-hal yang tak ingin kubawa ke dalam rumahtanggaku kelak. Aku tahu pasanganku mencintaiku bukan karena prestasi atau narsisisme yang bisa kubanggakan pada dunia. Tetapi karena aku mencintainya, maka aku mau membenahi diriku karena ia layak mempunyai penolong yang lebih baik. Aku mau menjadi penolong itu untuk dia, sebagaimana dia setia menolongku di hari-hari tergelapku. Aku tak tahu bagaimana masalah-masalah yang telah kugeluti bertahun-tahun tanpa hasil, akhirnya akan menghasilkan terobosan. Aku hanya tahu bahwa pengakuan dan niat untuk mencari pertolongan adalah langkah pertama untuk menyembuhkan penyakit lama dan kembali kepada jati diri yang dirancang oleh Penciptaku ketika Ia menciptakan aku.
Aku hanya ingin tetap diterima walaupun sebagian besar hidupku selama ini hanya diisi dengan kegagalan demi kegagalan. Bahwa aku tetap dikasihi dan dihargai walaupun aku merasa seperti seorang pecundang yang malu atas hidupnya dan takut untuk melangkah. Aku ingin kemanusiaanku diakui sebagai sesuatu yang indah, dan bahwa hadirku di dunia bukanlah suatu kesalahan melainkan sesuatu yang sangat berarti. Kalaupun hanya satu orang saja yang dapat merasa demikian tentangku dan berkomitmen untuk tetap berada di sisiku dalam badai terdahsyat.
Kalau mengubah keadaanku bagaikan pungguk merindukan bulan, biarlah aku mengubah diriku sehingga dengan keadaan ini pun kehidupanku tetap indah dan bermakna. Dan kalau segala sesuatu dalam hidupku ini salah, biarlah setidaknya aku benar dalam dua hal ini: hidup dalam hadirat Tuhan, dan mencintai Harun.
This entry was posted
on 08:29
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
.