Kalau kudaftarkan satu per satu rasanya tak akan pernah habis. Numpang Natalan bareng karena aku jauh dari keluarga. Dibantu pindahan saat diusir dari kos. Nongkrong bareng di studio teman saat ia kebagian giliran memasak, karena diam-diam dompetku sedang kosong. Memugar kamar baruku yang reyot. Menginap di kosnya menunggu catnya kering sementara teman-teman wanitaku berhalangan.
Selamat berpisah pernah kuucapkan kepadanya. Dengan berbesar hati bahwa mungkin aku takkan pernah melihat wajahnya lagi. Ia salah seorang kawan seperjuangan yang dikirim-Nya untuk mempermanis musim yang getir itu. Namun musim itu harus berganti, dan aku tiba di persimpangan di mana kami meneruskan perjalanan hidup kami sendiri-sendiri. Kendati begitu, kesetiaannya telah membawanya kepada suatu tempat teristimewa di hatiku sebagai seorang sahabat.
Tak kusangka Tuhan membawanya kembali ke dalam hidupku di musim ini. Memberiku keberanian untuk bangkit lagi dalam kuliahku. Masih ada untukku di saat aku butuh pertimbangan yang bijak. Ada pula untuk berbagi momen-momen gembira. Tunas-tunas persahabatan yang lama berkecambah ternyata bersemi menjadi cinta.
Hadirnya adalah anugerah.
Persahabatan yang telah kami jalin semenjak seperempat bagian terakhir hidupku membuat kami menjadi pasangan yang tidak terlalu banyak basa-basi. Tak perlu selalu bertukar kata-kata manis di telepon dan SMS atau repot-repot memoles diri untuk membuat yang lain berdecak kagum. Kendati begitu, percintaan ini tetap penuh dengan kejutan-kejutan indah yang membawaku mengenalnya lebih dalam, dan terenyuh bahwa seseorang yang tahu begitu banyak tentangku masih bisa mengasihi aku seperti itu. Bahkan teman-temannya terheran-heran mendengar tentang sisi romantisnya yang tersembunyi itu.
Kusadari, pada usia hubungan kami yang baru empat setengah bulan ini aku masih mengecap masa-masa "bulan madu", di mana semua ingatan tentangnya dan semua pengalaman dengannya terasa manis. Aku merasa begitu nyaman berada di dekatnya, seperti seorang anak kecil yang bernaung dalam rangkulan hangat pelindungnya dan bergembira menikmati perhatiannya tanpa beban apapun. Aku hanya ingin berbahagia menikmati, merasakan, dan meresapi masa indah ini selama adanya.
Namun aku juga menyadari bahwa masa "bulan madu" ini hanyalah suatu persinggahan sementara. Aku tidak pernah bermaksud menjadi seorang gebetan semusim untuk menghabiskan akhir pekan selama ada daya hibur yang bisa kutawarkan. Untuk pertama kalinya aku mengalami bagaimana rasanya bangun setiap pagi dengan keinginan yang kuat untuk menghabiskan seumur hidupku di sisinya. Keinginan untuk menjadi penolongnya mengarungi badai kehidupan dan bersemangat menantikan hari-hari indah yang menjadi buah perjuangan kami.
Cinta abadi takkan selamanya berbunga-bunga.
Sebab cinta sejati adalah ketika cinta romantis bertumbuh menjadi cinta tak bersyarat yang lebih mementingkan kebaikan pasangan daripada kenyamanan diri sendiri, dengan diuji oleh pergumulan dan pengorbanan.
Salah satu alasan terkuat mengapa aku percaya bahwa dia pria untukku adalah bahwa aku pernah merasakan seperti apa mempunyai dia sebagai kawan di saat aku susah dan tak bisa menawarkan apapun untuk membalasnya. Suatu hari nanti, romansa akan berkurang porsinya karena kebersamaan kami akan dibebani oleh tanggung jawab yang lebih mendesak, sehingga kami akan perlu lebih mementingkan fungsi sebagai partner kerja yang dapat diandalkan. Jauh sebelum jatuh cinta kepadanya, aku telah dapat dengan kepala dingin menyatakan bahwa ia seorang pria berkarakter baik. Aku percaya bahwa di masa depan pun ia akan setia menepati komitmennya, walaupun tantangan dan cobaan memaksa kami untuk mengesampingkan romansa sejenak demi menjadi sahabat yang menaruh kasih di setiap waktu.
Walaupun begitu, aku tetap berharap bahwa dengan seiring mendewasanya cinta kami dan bertambahnya tahun-tahun yang kami lalui bersama, romansa tidak pudar. Aku juga tak mau cinta yang pernah penuh gairah membara meredup menjadi kewajiban dan mekanisme belaka. Sebab bagaimanapun cinta diberikan-Nya untuk menikmati, menggairahkan, dan memuaskan.
Aku tak tahu bagaimana mewujudkan cinta yang seperti itu. Aku tak melihat banyak pasangan dengan idealisme demikian. Atau jika idealismeku ini terbilang unik, maka tak ada pasangan lain yang bisa benar-benar bisa kami jadikan acuan. Sudah bagus bisa mengikuti jejak orangtua kami, yang walaupun jauh dari sempurna dan dengan susah payah, setidaknya langgeng dan saling mencintai sampai tua.
Kami bermaksud menjalin suatu cinta yang permanen.
Namun itu tak akan mudah, mengingat bahwa kami sama-sama terbiasa hidup nomaden dan menjalin pertemanan-pertemanan yang sifatnya bongkar pasang saja: cukup cepat bergaul mengakrabkan diri dengan teman-teman baru, dan secepat itu juga membereskan pertemanan-pertemanan yang telah terjalin untuk melanjutkan perjalanan ke belahan lain dunia dengan lingkungan yang baru pula.
Kami sama-sama perlu belajar dari bawah, bagaimana membangun pondasi untuk mendirikan hubungan yang permanen. Bukan yang akan bubar dalam dua-tiga tahun ke depan, tetapi yang berdiri kokoh dan tinggal teguh hingga akhir hayat kami.
Sejauh ini, hubungan-hubungan permanenku yang lain hanya terdapat pada empat orang lain: Papa, Mama, adikku, dan Tuhan.
Semuanya jauh dari "romantis". Malah terbilang memprihatinkan.
Aku pernah melalui masa-masa "bulan madu" dengan Papa, Mama, Michael, maupun Tuhan. Namun seiring dengan mendewasanya hubungan kami, aku belajar untuk menanggalkan kemanjaanku yang kekanak-kanakan ganti kedewasaan yang mandiri dan bertanggung jawab. Mengesampingkan luapan emosiku yang egois dan berhenti menuntut mereka memuaskan keinginan-keinginanku demi mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan hidupku serta membebaskan mereka untuk menjalani panggilan mereka masing-masing.
Dan mungkin memang demikianlah jalan yang terbaik.
Sebab walaupun darah dan daging mengikat kami, kami tetap empat orang individu dengan jalan dan panggilannya masing-masing. Kami hidup di dunia kami masing-masing dan sesekali keluar sejenak dari dunia tersebut untuk berjumpa kembali dan mengingat bahwa kami tidak sendirian. Selalu ada suatu tempat untuk kembali di mana kami diterima dengan kasih dan kepedulian sejati... setidaknya menurut pengetahuan dan kemampuan kami yang terbatas ini.
Walaupun begitu, aku agak menyesal bahwa sepertinya kedewasaan dan tanggung jawab juga membawa sedikit isolasi yang membuatku merasa seperti orang asing di tengah-tengah keluargaku sendiri... karena dengan kedewasaan dan tanggung jawab ini telah tercipta tembok pembatas antara duniaku dan dunia mereka agar kami tidak terus saling menyakiti dan menjatuhkan.
Pada saat ini pun aku bertanya-tanya tentang hubunganku dengan Tuhan. Aku masih mengasihi Tuhan. Aku masih rindu membaca dan mendalami firman-Nya setiap hari dan membawa seluruh isi hatiku kepada Tuhan dalam doa.
Tetapi akhir-akhir ini aku kurang merasakan perlunya menyisihkan satu-dua jam khusus setiap hari untuk "menyembah" atau bersujud dalam "syafaat" atau sekadar berdiam diri "menikmati hadirat-Nya". Lama-lama terasa klise. Mungkin karena contoh-contoh yang kulihat di gereja sepertinya penuh dengan luapan emosi yang menurutku kekanak-kanakan dan lebih bersifat memuaskan diri sendiri daripada menyukakan hati Tuhan. Aku muak melihat para "pendoa", "penyembah", dan "hamba-hamba Tuhan" yang berhaleluya ria dan hebat di atas mimbar tetapi hidupnya tidak kunjung bertumbuh dan berbuah, hanya sibuk saling menuding atau berpolitik rohani.
Diam-diam aku takut menjadi seperti mereka.
Namun aku lebih tidak mau hubunganku dengan Tuhan mundur menjadi agama dan formalitas semata. Menjadi pintar dalam doktrin dan ritual, tetapi bernilai nol besar dalam hal mencari kedalaman hati Tuhan.
Aku hanya ingin menjadi penerima kasih karunia Tuhan yang dipulihkan menurut gambar dan rupa-Nya, lantas aktif sebagai pembagi kasih karunia tersebut dengan bahasa dan budaya yang relevan dengan masyarakat di mana aku ditempatkan-Nya. I just want something real, something I can be true to myself. Aku ingin mengasihi Tuhan bukan dengan lip service tetapi dengan kasih sejati sebagaimana yang Ia ajarkan kepadaku.
Demikian juga dalam hubunganku dengan Harun. Kerinduanku mendengarkan kata-kata manis terucap dari bibirnya, menerima buah-buah tangan yang menyukakan hati, atau mengadakan akhir-akhir pekan yang hura-hura tidaklah seberapa dibandingkan tuntutanku bahwa ia harus menjadi seorang pasangan yang setia, bertanggung jawab, jujur dan penuh kasih di setiap saat. Aku hanya berharap bahwa sesekali ia ingat untuk mengembalikan letupan-letupan romansa yang menghiasi cinta mula-mula kami.
Mudah-mudahan aku tidak kecewa jika boleh berharap bahwa mendewasanya hubungan kami tidak berarti kami kehilangan kedekatan dan api kegairahan.
Aku tak mau menjadi perempuan dominan yang selalu merasa lebih benar atau lebih pintar. Aku hanya ingin memastikan bahwa apabila aku menikah dengannya kami menemukan titik temu untuk bertumbuh bersama sehingga aku tidak frustrasi dengan perasaan bahwa sepertinya hanya aku yang aktif mengejar hatinya. Aku takkan mengikat hubungan ini dengan aturan-aturan yang menciptakan banyak rasa bersalah, tetapi aku berharap bahwa kami sama-sama sadar untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik yang senantiasa menyeimbangkan pendewasaan maupun terpuaskannya kebutuhan-kebutuhan emosional kami.
Kalau empat setengah bulan bersamanya telah banyak membukakan pada hatiku hal-hal baru tentang karakter dan kedalaman hati Tuhan, mudah-mudahan dengan menghabiskan hidupku bersama Harun Tuhan memperbarui konsepku tentang pendewasaan cinta serta perspektif yang benar tentang keintiman dan romansa.
Bukankah cinta sejati seharusnya mendewasa menuju kesempurnaan, bukannya menjadi tua dan usang?
Aku memilih untuk menjalani cinta ini dengan iman. Ia disebut iman karena kami tak sanggup mewujudkan cinta sejati itu dengan kekuatan kami sendiri. Namun kami tetap memilih untuk percaya dan melangkah, sebab kami mengenal Dia yang mempersatukan serta menuntun langkah kami.