never grow old  

Posted by: clarissa.kilroy

Kalau kudaftarkan satu per satu rasanya tak akan pernah habis. Numpang Natalan bareng karena aku jauh dari keluarga. Dibantu pindahan saat diusir dari kos. Nongkrong bareng di studio teman saat ia kebagian giliran memasak, karena diam-diam dompetku sedang kosong. Memugar kamar baruku yang reyot. Menginap di kosnya menunggu catnya kering sementara teman-teman wanitaku berhalangan.


Selamat berpisah pernah kuucapkan kepadanya. Dengan berbesar hati bahwa mungkin aku takkan pernah melihat wajahnya lagi. Ia salah seorang kawan seperjuangan yang dikirim-Nya untuk mempermanis musim yang getir itu. Namun musim itu harus berganti, dan aku tiba di persimpangan di mana kami meneruskan perjalanan hidup kami sendiri-sendiri. Kendati begitu, kesetiaannya telah membawanya kepada suatu tempat teristimewa di hatiku sebagai seorang sahabat.


Tak kusangka Tuhan membawanya kembali ke dalam hidupku di musim ini. Memberiku keberanian untuk bangkit lagi dalam kuliahku. Masih ada untukku di saat aku butuh pertimbangan yang bijak. Ada pula untuk berbagi momen-momen gembira. Tunas-tunas persahabatan yang lama berkecambah ternyata bersemi menjadi cinta.


Hadirnya adalah anugerah.


Persahabatan yang telah kami jalin semenjak seperempat bagian terakhir hidupku membuat kami menjadi pasangan yang tidak terlalu banyak basa-basi. Tak perlu selalu bertukar kata-kata manis di telepon dan SMS atau repot-repot memoles diri untuk membuat yang lain berdecak kagum. Kendati begitu, percintaan ini tetap penuh dengan kejutan-kejutan indah yang membawaku mengenalnya lebih dalam, dan terenyuh bahwa seseorang yang tahu begitu banyak tentangku masih bisa mengasihi aku seperti itu. Bahkan teman-temannya terheran-heran mendengar tentang sisi romantisnya yang tersembunyi itu.


Kusadari, pada usia hubungan kami yang baru empat setengah bulan ini aku masih mengecap masa-masa "bulan madu", di mana semua ingatan tentangnya dan semua pengalaman dengannya terasa manis. Aku merasa begitu nyaman berada di dekatnya, seperti seorang anak kecil yang bernaung dalam rangkulan hangat pelindungnya dan bergembira menikmati perhatiannya tanpa beban apapun. Aku hanya ingin berbahagia menikmati, merasakan, dan meresapi masa indah ini selama adanya.


Namun aku juga menyadari bahwa masa "bulan madu" ini hanyalah suatu persinggahan sementara. Aku tidak pernah bermaksud menjadi seorang gebetan semusim untuk menghabiskan akhir pekan selama ada daya hibur yang bisa kutawarkan. Untuk pertama kalinya aku mengalami bagaimana rasanya bangun setiap pagi dengan keinginan yang kuat untuk menghabiskan seumur hidupku di sisinya. Keinginan untuk menjadi penolongnya mengarungi badai kehidupan dan bersemangat menantikan hari-hari indah yang menjadi buah perjuangan kami.


Cinta abadi takkan selamanya berbunga-bunga.


Sebab cinta sejati adalah ketika cinta romantis bertumbuh menjadi cinta tak bersyarat yang lebih mementingkan kebaikan pasangan daripada kenyamanan diri sendiri, dengan diuji oleh pergumulan dan pengorbanan.


Salah satu alasan terkuat mengapa aku percaya bahwa dia pria untukku adalah bahwa aku pernah merasakan seperti apa mempunyai dia sebagai kawan di saat aku susah dan tak bisa menawarkan apapun untuk membalasnya. Suatu hari nanti, romansa akan berkurang porsinya karena kebersamaan kami akan dibebani oleh tanggung jawab yang lebih mendesak, sehingga kami akan perlu lebih mementingkan fungsi sebagai partner kerja yang dapat diandalkan. Jauh sebelum jatuh cinta kepadanya, aku telah dapat dengan kepala dingin menyatakan bahwa ia seorang pria berkarakter baik. Aku percaya bahwa di masa depan pun ia akan setia menepati komitmennya, walaupun tantangan dan cobaan memaksa kami untuk mengesampingkan romansa sejenak demi menjadi sahabat yang menaruh kasih di setiap waktu.


Walaupun begitu, aku tetap berharap bahwa dengan seiring mendewasanya cinta kami dan bertambahnya tahun-tahun yang kami lalui bersama, romansa tidak pudar. Aku juga tak mau cinta yang pernah penuh gairah membara meredup menjadi kewajiban dan mekanisme belaka. Sebab bagaimanapun cinta diberikan-Nya untuk menikmati, menggairahkan, dan memuaskan.


Aku tak tahu bagaimana mewujudkan cinta yang seperti itu. Aku tak melihat banyak pasangan dengan idealisme demikian. Atau jika idealismeku ini terbilang unik, maka tak ada pasangan lain yang bisa benar-benar bisa kami jadikan acuan. Sudah bagus bisa mengikuti jejak orangtua kami, yang walaupun jauh dari sempurna dan dengan susah payah, setidaknya langgeng dan saling mencintai sampai tua.


Kami bermaksud menjalin suatu cinta yang permanen.


Namun itu tak akan mudah, mengingat bahwa kami sama-sama terbiasa hidup nomaden dan menjalin pertemanan-pertemanan yang sifatnya bongkar pasang saja: cukup cepat bergaul mengakrabkan diri dengan teman-teman baru, dan secepat itu juga membereskan pertemanan-pertemanan yang telah terjalin untuk melanjutkan perjalanan ke belahan lain dunia dengan lingkungan yang baru pula.


Kami sama-sama perlu belajar dari bawah, bagaimana membangun pondasi untuk mendirikan hubungan yang permanen. Bukan yang akan bubar dalam dua-tiga tahun ke depan, tetapi yang berdiri kokoh dan tinggal teguh hingga akhir hayat kami.


Sejauh ini, hubungan-hubungan permanenku yang lain hanya terdapat pada empat orang lain: Papa, Mama, adikku, dan Tuhan.


Semuanya jauh dari "romantis". Malah terbilang memprihatinkan.


Aku pernah melalui masa-masa "bulan madu" dengan Papa, Mama, Michael, maupun Tuhan. Namun seiring dengan mendewasanya hubungan kami, aku belajar untuk menanggalkan kemanjaanku yang kekanak-kanakan ganti kedewasaan yang mandiri dan bertanggung jawab. Mengesampingkan luapan emosiku yang egois dan berhenti menuntut mereka memuaskan keinginan-keinginanku demi mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan hidupku serta membebaskan mereka untuk menjalani panggilan mereka masing-masing.


Dan mungkin memang demikianlah jalan yang terbaik.


Sebab walaupun darah dan daging mengikat kami, kami tetap empat orang individu dengan jalan dan panggilannya masing-masing. Kami hidup di dunia kami masing-masing dan sesekali keluar sejenak dari dunia tersebut untuk berjumpa kembali dan mengingat bahwa kami tidak sendirian. Selalu ada suatu tempat untuk kembali di mana kami diterima dengan kasih dan kepedulian sejati... setidaknya menurut pengetahuan dan kemampuan kami yang terbatas ini.


Walaupun begitu, aku agak menyesal bahwa sepertinya kedewasaan dan tanggung jawab juga membawa sedikit isolasi yang membuatku merasa seperti orang asing di tengah-tengah keluargaku sendiri... karena dengan kedewasaan dan tanggung jawab ini telah tercipta tembok pembatas antara duniaku dan dunia mereka agar kami tidak terus saling menyakiti dan menjatuhkan.


Pada saat ini pun aku bertanya-tanya tentang hubunganku dengan Tuhan. Aku masih mengasihi Tuhan. Aku masih rindu membaca dan mendalami firman-Nya setiap hari dan membawa seluruh isi hatiku kepada Tuhan dalam doa.


Tetapi akhir-akhir ini aku kurang merasakan perlunya menyisihkan satu-dua jam khusus setiap hari untuk "menyembah" atau bersujud dalam "syafaat" atau sekadar berdiam diri "menikmati hadirat-Nya". Lama-lama terasa klise. Mungkin karena contoh-contoh yang kulihat di gereja sepertinya penuh dengan luapan emosi yang menurutku kekanak-kanakan dan lebih bersifat memuaskan diri sendiri daripada menyukakan hati Tuhan. Aku muak melihat para "pendoa", "penyembah", dan "hamba-hamba Tuhan" yang berhaleluya ria dan hebat di atas mimbar tetapi hidupnya tidak kunjung bertumbuh dan berbuah, hanya sibuk saling menuding atau berpolitik rohani.


Diam-diam aku takut menjadi seperti mereka.


Namun aku lebih tidak mau hubunganku dengan Tuhan mundur menjadi agama dan formalitas semata. Menjadi pintar dalam doktrin dan ritual, tetapi bernilai nol besar dalam hal mencari kedalaman hati Tuhan.


Aku hanya ingin menjadi penerima kasih karunia Tuhan yang dipulihkan menurut gambar dan rupa-Nya, lantas aktif sebagai pembagi kasih karunia tersebut dengan bahasa dan budaya yang relevan dengan masyarakat di mana aku ditempatkan-Nya. I just want something real, something I can be true to myself. Aku ingin mengasihi Tuhan bukan dengan lip service tetapi dengan kasih sejati sebagaimana yang Ia ajarkan kepadaku.


Demikian juga dalam hubunganku dengan Harun. Kerinduanku mendengarkan kata-kata manis terucap dari bibirnya, menerima buah-buah tangan yang menyukakan hati, atau mengadakan akhir-akhir pekan yang hura-hura tidaklah seberapa dibandingkan tuntutanku bahwa ia harus menjadi seorang pasangan yang setia, bertanggung jawab, jujur dan penuh kasih di setiap saat. Aku hanya berharap bahwa sesekali ia ingat untuk mengembalikan letupan-letupan romansa yang menghiasi cinta mula-mula kami.


Mudah-mudahan aku tidak kecewa jika boleh berharap bahwa mendewasanya hubungan kami tidak berarti kami kehilangan kedekatan dan api kegairahan.


Aku tak mau menjadi perempuan dominan yang selalu merasa lebih benar atau lebih pintar. Aku hanya ingin memastikan bahwa apabila aku menikah dengannya kami menemukan titik temu untuk bertumbuh bersama sehingga aku tidak frustrasi dengan perasaan bahwa sepertinya hanya aku yang aktif mengejar hatinya. Aku takkan mengikat hubungan ini dengan aturan-aturan yang menciptakan banyak rasa bersalah, tetapi aku berharap bahwa kami sama-sama sadar untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik yang senantiasa menyeimbangkan pendewasaan maupun terpuaskannya kebutuhan-kebutuhan emosional kami.


Kalau empat setengah bulan bersamanya telah banyak membukakan pada hatiku hal-hal baru tentang karakter dan kedalaman hati Tuhan, mudah-mudahan dengan menghabiskan hidupku bersama Harun Tuhan memperbarui konsepku tentang pendewasaan cinta serta perspektif yang benar tentang keintiman dan romansa.


Bukankah cinta sejati seharusnya mendewasa menuju kesempurnaan, bukannya menjadi tua dan usang?


Aku memilih untuk menjalani cinta ini dengan iman. Ia disebut iman karena kami tak sanggup mewujudkan cinta sejati itu dengan kekuatan kami sendiri. Namun kami tetap memilih untuk percaya dan melangkah, sebab kami mengenal Dia yang mempersatukan serta menuntun langkah kami.

on fame, fortune, and the so-called perfect life  

Posted by: clarissa.kilroy

"Yaa, kamu jangan kecewa dong kalau aku bilang tulisan-tulisanmu lebih cocok masuk buku renungan daripada majalah-majalah lifestyle kelas dunia," ujarnya melihat ekspresi wajahku yang tak kuasa menyembunyikan kemirisan hatiku mendengar komentarnya.

"Kamu kok kayaknya gak rela sih aku bilangin begini," lanjutnya. "Padahal aku juga mengalami kok. Aku juga punya cita-cita besar yang idealis dan ekstravagan. Tapi semakin aku dewasa, semakin aku menyadari keterbatasan-keterbatasanku, bahwa aku gak bisa mencapai impian-impian gila itu, bahkan aku seringkali perlu men-downgrade ekspektasi-ekspektasiku. Tapi porsi yang memang aku sanggupi, itu aku terima dan syukuri sebagai anugerah yang baik untuk dinikmati. Coba, deh, belajar menerima dirimu apa adanya, tidak terus menerus mengecewakan dirimu sendiri saat kamu tidak sanggup menyejajarkan dirimu dengan para idola yang dielu-elukan masyarakat."

Aku hanya lupa memberitahu Harun, bahwa sebenarnya aku lebih menghargai nasihatnya yang lugas ketimbang pujian Arswendo yang mengatakan tulisanku bagus tetapi enggan memberiku saran-saran membangun agar dapat mulai menulis secara profesional.

Nasihat-nasihat seperti inilah yang makin membuatku terjaga dari tidur lelapku, meninggalkan mimpi-mimpi indahku dan menghadapi kenyataan dengan sadar. Menulikan telinga terhadap orang-orang ambisius yang mengobarkan impian dan berjanji melatihku menjadi orang yang tepat untuk mewujudkannya. Keterbatasan-keterbatasan pribadi maupun lingkungan bukanlah untuk kita sesali atau lawan. Keterbatasan seharusnya justru memudahkan kita untuk berfokus pada anugerah-anugerah unik yang dipercayakan Yang Kuasa, dan menjadi alat untuk memproses impian mentah menjadi realita matang.

Tadi sore aku menonton film Fame. Kisah yang menurutku sangat down to earth menceritakan sejumlah remaja dengan impian besar, yang memilih untuk bangun dari mimpi demi merintis jalan kehidupan mereka dengan disiplin keras, komitmen, serta persahabatan. Ceritanya tidak terlalu seru, hanya berupa cuplikan-cuplikan perjalanan sejumlah siswa SMU performing arts dengan dihiasi beberapa konflik ringan serta keindahan seni tari, nyanyi, dan lakon. Walaupun begitu, aku bisa sangat menghayati pesan-pesan moral yang disampaikan film ini mengenai kenyataan hidup.

Jenny seorang siswi akademis yang dulu kaku dan serius, bertemu dengan Marco yang easy-going dan menghadirkan warna-warni di kehidupan remajanya. Walaupun tidak pernah menjadi bintang kelas dan selalu kalah dengan teman-temannya yang sudah mulai eksis di dunia entertainment, Jenny belajar bahwa ketenaran bukanlah segala-galanya. Joy, sahabat Jenny yang lebih dulu dikontrak sebagai aktris Sesame Street malah drop out di tahun terakhir karena terlalu sibuk bekerja. Pada akhirnya Jenny menemukan makna kehidupannya dengan bertekun dalam sekolahnya hingga hari kelulusan, serta kesetiaannya pada kekasih sejatinya Marco.

Neil yang bercita-cita menjadi sutradara terkenal sangat rajin membuat film-film pendek sebagai portofolionya, tetapi kemudian ditipu oleh seorang produser yang berjanji akan menghubungkannya dengan festival film bergengsi. Denise seorang pianis klasik berbakat yang frustrasi dengan kekolotan orangtuanya, direkrut menjadi penyanyi hip hop oleh siswa drama Malik yang berambisi menjadi aktor serta rapper, dan pasangan produsernya yang bernama Victor. Ketiganya menjadi dekat karena merasa ambisi kreatifnya selalu dikekang: orangtua Denise tidak merestui keterlibatannya di musik selain piano klasik, Malik selalu dikritik guru drama karena tidak bisa menampilkan kerapuhan emosinya dalam lakon, dan Victor dimarahi guru pianonya karena tidak bermain sesuai petunjuk pada notasi. Ketika berhasil menarik perhatian produser Alicia Keys dan Lauryn Hill, ia hanya tertarik kepada Denise tetapi menolak Victor dan Malik. Walaupun belum jadi menembus industri musik, ketiganya terus bertekun di sekolah, bahkan hingga Denise memenangkan restu ibunya yang kagum melihat perkembangannya sebagai penyanyi.

Di jurusan dance, Alice yang sudah menjadi bintang kelas sejak tahun pertama drop out beberapa bulan sebelum menyelesaikan SMU karena dipanggil oleh dance company bergengsi untuk tur mancanegara. Tanpa segan-segan ia mencampakkan kekasih yang telah membahagiakan tahun-tahun perjuangannya di SMU. Sementara itu Kevin berdamai dengan kenyataan bahwa ia tidak cukup kompeten untuk menjadi seorang pebalet profesional, kemudian pulang ke Iowa untuk meneruskan studio balet ibunya sebagai seorang guru terbaik di daerahnya.

Kalau ada satu hal yang bisa kuacungi jempol tentang cerita film ini, adalah bahwa ia cukup jelas menyadarkan penonton akan harga yang dibayar oleh setiap siswa yang mengejar impiannya untuk menekuni performing arts. Kehidupan glamor sebagai artis terkenal yang dielu-elukan fans sedunia di atas panggung dan red carpet hanyalah satu persen kecil dari realita profesi performing arts. Sembilan puluh sembilan persen lainnya adalah disiplin dan konsistensi, mendengarkan arahan guru yang seringkali terasa kolot dan mengekang, menyepi untuk lembur di studio memantapkan teknik, bergesekan dengan rekan-rekan sepanggung yang bersatu untuk menyajikan satu performance yang kompak, mengalami penolakan di saat kita kira sudah akan diterima di industri komersil, dan tidak banyak waktu untuk berleha-leha. Selain itu, di antara seribu satu tawaran menggiurkan untuk mendapatkan nama dan kekayaan, sangatlah penting untuk tidak beralih dari tujuan yang mula-mula telah ditetapkan oleh nurani, agar hidup yang dijalani jangan kehilangan makna dengan percuma.

Setelah satu setengah tahun berkutat di konsentrasi performing arts, aku semakin menyadari bahwa alasanku memilih jurusan ini tidak lain adalah untuk menebus utang mimpi yang tak kesampaian ketika SMU dulu. Walaupun dalam hati kecilku aku tahu bahwa aku tak akan pernah menjadi seorang artis secara profesional, performing arts tetap merupakan bidang yang wajib kujalani untuk dapat mengenal diriku sendiri, sebagai titik navigasi untuk menentukan akan kubawa ke mana kehidupanku dari sini. Di mata dunia hal itu sepertinya tidak efisien. Padahal tanpanya sebagian signifikan dari diriku mati dan aku takkan pernah hidup sebagai seorang manusia yang utuh.

Aku pun semakin insaf, bahwa keempat tahun yang dianugerahkan Tuhan kepadaku di London School bukanlah untuk mengritik betapa cacatnya jurusan performing arts perdana ini atau menyesali mengapa lagi-lagi sepertinya aku cuma menjadi katak dalam tempurung di kampus yang serba terbatas ini. London School diberikan-Nya kepadaku sebagai persinggahan sementara di mana aku beroleh kekuatan baru dan dapat dipulihkan dari luka memar masa laluku dengan terhormat. Di akhir dari keempat tahun ini aku akan kembali dilepas ke masyarakat, bukan hanya sebagai seorang sarjana dan calon profesional yang siap berkarya, tetapi juga sebagai seorang manusia utuh yang sungguh-sungguh mengenali jati dirinya serta mengabdi kepada generasi ini.

Tak ada seorangpun yang di malam hari berdoa agar besok pagi Tuhan menerbitkan matahari. Malam begitu panjang dan mengerikan apabila dijalani dengan mata melek. Namun bagi mereka yang tidur, malam menjadi waktu yang efektif untuk mendapatkan kekuatan yang baru untuk kembali bekerja apabila fajar menyingsing. Matahari pasti akan terbit dan kita pasti akan bekerja. Seseorang tidak menjadi lebih mulia dengan menghabiskan diniharinya berkeringat di ladang tetapi menjelang fajar pulang ke rumah dengan kaki terantuk sehingga pada siang hari justru tidak dapat bekerja.

Masa-masa sekolah seperti yang dialami oleh tokoh-tokoh Fame maupun rekan-rekan PAC LSPR adalah seperti masa malam itu. Kamilah anak-anak muda yang bermimpi di malam hari, menantikan fajar menyingsing agar dapat meninggalkan dunia mimpi serta membuktikan diri di dunia nyata. Dan kami ingin karya-karya itu diakui, dikenang, serta meninggalkan dampak positif yang melampaui persinggahan kami di dunia.

Pada saat ini tantangan terbesarnya adalah untuk bebesar hati menerima bahwa ketenaran, kekayaan, dan kesempurnaan hidup yang digembar-gemborkan media populer belum tentu cocok untuk setiap dari kita. Terkadang orang-orang yang kita harapkan akan membangun kita sepertinya mematahkan semangat kita dengan mengatakan bahwa kita tidak cukup kompeten untuk menggapai mimpi-mimpi indah itu. Lalu dengan angkuh kita bersumpah akan membuktikan mereka salah apabila kelak matahari bersinar untuk kita. Kita pikir mereka jahat karena mau menghalangi kita dari mewujudkan keinginan-keinginan kita. Padahal pencapaian keinginan tersebut belum tentu melengkapi makna kehidupan kita, dan kalau saja kita mau sejenak menyingkirkan obsesi demi berfokus kepada realita, maka kita akan menjadi orang-orang dewasa yang cukup jeli untuk menemukan anugerah-anugerah yang nyata dan kekal.

Orang-orang ambisius hidup untuk membalas dendam dan menjaga gengsi. Tetapi aku mau hidup sebagai manusia utuh yang menemukan makna. Dunia tak lagi dapat memberitahuku bahwa kehidupan yang kujalani sekarang ini tak cukup baik, sehingga aku membutuhkan mereka untuk menjadi orang yang lebih besar. Standar mereka bukan standarku, dan begitu juga definisiku dan definisi mereka tentang kehidupan yang "sempurna".

Ketenaran dan kekayaan bukanlah segala-galanya, tetapi Bapa sorgawi kita pasti akan setia mencukupkan kredibilitas dan sumberdaya untuk medan yang kita jalani dari hari ke hari. Kebahagiaan dan kebanggaan kita bukan kewajiban-Nya, tetapi kita diberikan-Nya pilihan untuk menjadikan setiap musim indah pada waktunya. Mimpi adalah wahyu yang menolong kita mengenali diri sendiri dan medan di hadapan kita, tetapi tidak dimaksudkan untuk memperbudak kita dengan keinginan-keinginan yang merampas sukacita kita. Kalaupun kita tidak menerima segala sesuatu yang kita dambakan, hidup kita tetap berharga karena Tuhan hadir di dalamnya, menyediakan realita anugerah yang sesuai dengan jati diri dan tujuan hidup kita. Segala sesuatu yang kurang di kehidupan ini diizinkan-Nya agar kita menjadi orang-orang yang beriman. Apa yang kita pelihara dengan setia dari hari ke hari pasti akan ditumbuhkan-Nya pada musimnya. Kapan si katak boleh keluar dari tempurung, atau pelita boleh dikeluarkan dari lemari agar dapat bersinar dari tempat tinggi, itu diatur di bawah kedaulatan-Nya. Namun dalam hal yang satu ini kita boleh percaya: sepasti matahari terbit besok pagi, sepasti itu jugalah sang Khalik akan menyempurnakan kehidupan kita dalam waktu perkenanan-Nya.

good intentions  

Posted by: clarissa.kilroy

Tak adakah sesuatu pun dalam hidup ini yang bisa kulakukan dengan benar? Apakah aku lebih bodoh dan lemah dari orang rata-rata sehingga hanya bisa mengkonseptualisasikan ideal-ideal yang indah tanpa mempu mewujudkannya? Rasanya aku tak berbeda dari orang lain... aku hanya ingin menjalani hidup yang berhasil dengan itikad yang baik. Namun seperti kata pepatah, good intentions are not good enough, karena apa yang diperhitungkan orang adalah apa yang benar-benar kauwujudkan.


Orang-orang lain bisa, kenapa kamu tidak? Begitu sepertinya dunia bertanya kepadaku. Dewasa ini semakin jarang orang mengucapkannya secara harafiah kepadaku, tetapi kejadian-kejadian di sekitarku sepertinya mengolok-olokku di depan mata. Aku bukannya tidak bersukacita dengan keberhasilan teman-teman di sekitarku; hanya agak kecewa bahwa hal-hal itu belum terwujud dalam kehidupanku. Sepertinya seiring berjalannya waktu langkah-langkah menuju ke saja tidak menjadi semakin jelas, dan jalannya tidak bertambah mudah.

Sesulit inikah pencapaian prestasi yang berarti dan berkesinambungan dalam hidup? Apakah anganku yang terlalu mengada-ada, sehingga aku hidup dalam fatamorgana yang senantiasa mengecewakan? Atau aku yang bodoh, sehingga untuk menaklukkan tantangan biasa saja tak bisa? 

Kurasa hal-hal yang kuinginkan sebenarnya simpel dan realistis. Aku ingin mengalami kepenuhan dunia kampus: raising the bar, testing my limits, expanding my horizons, dan membangun persahabatan-persahabatan bermakna untuk mencicipi perjalanan ini bersama. Aku ingin dibawa mengarungi medan-medan di luar dugaanku, menuntaskannya dengan unggul, dan merayakan kelulusanku. Aku ingin mempunyai karir: menghabiskan hari-hari produktifku mengerjakan sesuatu yang kucintai, menjadikan dunia beberapa orang lebih baik karenanya, dan dikenali karena keunggulanku. Aku ingin menghasilkan cukup uang untuk menyokong diriku, menyenangkan orang-orang yang kukasihi, dan beramal untuk wacana-wacana yang kupedulikan. Aku ingin punya pelayanan dengan dampak signifikan, membawa orang mengenal Penciptanya, dan menyadari betapa bernilainya mereka di dalam Dia.

Kalau banyak orang seusiaku dan lebih muda bisa mewujudkannya, kenapa aku tidak? Secara akademis aku tidak kalah dengan mereka. Secara kualitas kerja, aku tidak kurang kompeten dibandingkan mereka. Secara etos kerja, aku tidak kurang kerja keras dibandingkan mereka. Secara karakter aku tidak lebih buruk dari mereka. Seharusnya aku bisa mengerjakan hal-hal yang mereka kerjakan! Aku hanya perlu waktu, tempat, dan kesempatan. Kalau aku tak bisa bergantung kepada orang lain untuk memberikan ketiganya itu, berarti aku harus berusaha menciptakannya sendiri.

Namun kenyataannya aku telah bertahun-tahun mengusahakannya, seakan tanpa hasil konkret yang permanen. Kuliah tanpa pertimbangan masak, empat kali kandas, dan di kali kelima ini kondisi kampusku terasa begitu memprihatinkan dibandingkan kampus-kampusku yang dulu. Ketika remaja niatku untuk bekerja selalu dihalangi oleh orangtuaku yang takut kuliahku terganggu, dan ketika aku bersikeras mengejarnya juga justru hidupku menjadi kacau. Kini aku belum berhasil juga merintis karir yang permanen, dan merasa semakin sulit bersaing dengan mereka yang lebih muda tetapi lebih berpengalaman. Kalau karir saja belum kunjung established, bagaimana mau punya penghasilan sendiri? Pelayananku pun sepertinya dari dulu belum beranjak dari level perintisan.

Sepertinya dalam segala usahaku mewujudkan sesuatu yang baik selalu ada saja yang salah di mata dunia. Aku tak mau menjadikan "kehendak Tuhan" dan "blessing in disguise" sebagai alasan untuk membenarkannya. Memaafkan diri sendiri dan orang lain yang telah andil dalam menjadikan kehidupanku seperti ini bukanlah hal yang mudah, tetapi itulah satu-satunya hal yang benar untuk dilakukan jika aku mau maju. Aku hanya ingin, untuk pertama kalinya dalam hidupku dan untuk seterusnya, merasakan bahwa kehadiranku di dunia serta hal-hal yang kukerjakan memang benar dan menghasilkan hasil yang benar juga.

Sulit untuk tidak merasa pahit apabila sekarang orangtuaku mendesakku untuk bekerja, padahal dulu mereka yang selalu melarangku. Muak aku apabila mereka mengeluh tentang jumlah kecil uang saku yang mereka berikan padaku, padahal mereka menghabiskan jauh lebih banyak untuk mendukung gaya hidup mereka yang berfoya-foya dan membayar gengsi mereka di depan saudara-saudara yang secara ekonomi tak seberuntung kami. Sementara itu, semua hal yang kukerjakan dalam kuliah dan pelayananku--hal-hal yang membuatku sedikit lebih bahagia dan berbangga atas hidupku--itu sepertinya sangat kecil di mata mereka hingga tak layak untuk dihargai. Lalu kalau aku mengeluh karena hidupku terasa begitu kosong dan mengecewakan, mereka menyalahkanku karena dari dulu aku selalu melawan. Achh, kenapa selalu aku dan hanya aku yang salah?

Kini aku merasa sangat sulit untuk menurut, karena aku merasa setiap otoritas yang seharusnya dapat kupercaya telah memanfaatkanku untuk kepentingan mereka sendiri dan lebih banyak mengorbankanku daripada membangunku. Karena sulit untuk taat, aku kerapkali merasa kesulitan dalam pelayanan dan kuliah, dan mungkin karena itu juga takut "terikat" dalam pekerjaan. Aku cenderung apatis terhadap orangtuaku karena tidak yakin bahwa mereka benar-benar peduli untuk memaksimalkan potensiku, hanya cari enaknya saja dalam membesarkan anak sulungnya yang belum kunjung jadi orang ini. Aku sulit mempercayai kebanyakan orang, karena sepertinya untuk memperoleh kasih mereka aku harus membuktikan janji-janji yang sulit kutepati. Dan kalaupun janji-janji itu kutepati siapa yang bisa menjamin bahwa mereka takkan mengkhianatiku?

Mungkin orang kaget membaca tulisan semacam ini keluar dariku, yang biasanya tampil optimis dan percaya diri. Kehidupanku tidak seindah apa yang kutampilkan secara profesional. Tak banyak yang bisa kubanggakan dalam kehidupanku. Kurasa Tuhan belum selesai mengajarkanku untuk tidak menaruh rasa amanku pada prestasi dan narsisisme. Bukan berarti itu mengesahkan keadaan hidupku yang belum kunjung menghasilkan ini. Aku hanya belum mengerti bagaimana "damai sejahtera" untuk menerima kisah hidupku apa adanya bisa akhirnya membuat suatu terobosan konkret yang permanen dalam hidupku.

Banyak orang pernah menyatakan iri padaku karena mereka memandangku sebagai seorang bibit unggul yang berbakat, punya semangat hidup dan cita-cita tinggi, orangtua terpandang yang reputasinya jujur, kecukupan ekonomi, wawasan luas, dan tidak kurang kasih sayang. Di satu sisi, aku sangat mensyukuri hal-hal ini, dan tak akan menukarnya  dengan status, prestige, atau prestasi apapun. Namun di sisi lain, berkat-berkat ini seringkali terasa seperti teori belaka karena aku tak merasa mengalami prakteknya dalam bentuk prestasi yang terbukti, atau setidaknya kemampuanku untuk menyokong diri sendiri di usiaku yang tak lagi muda ini.

Ini adalah hal-hal yang sedang kugumuli dalam masa pranikah; hal-hal yang tak ingin kubawa ke dalam rumahtanggaku kelak. Aku tahu pasanganku mencintaiku bukan karena prestasi atau narsisisme yang bisa kubanggakan pada dunia. Tetapi karena aku mencintainya, maka aku mau membenahi diriku karena ia layak mempunyai penolong yang lebih baik. Aku mau menjadi penolong itu untuk dia, sebagaimana dia setia menolongku di hari-hari tergelapku. Aku tak tahu bagaimana masalah-masalah yang telah kugeluti bertahun-tahun tanpa hasil, akhirnya akan menghasilkan terobosan. Aku hanya tahu bahwa pengakuan dan niat untuk mencari pertolongan adalah langkah pertama untuk menyembuhkan penyakit lama dan kembali kepada jati diri yang dirancang oleh Penciptaku ketika Ia menciptakan aku.

Aku hanya ingin tetap diterima walaupun sebagian besar hidupku selama ini hanya diisi dengan kegagalan demi kegagalan. Bahwa aku tetap dikasihi dan dihargai walaupun aku merasa seperti seorang pecundang yang malu atas hidupnya dan takut untuk melangkah. Aku ingin kemanusiaanku diakui sebagai sesuatu yang indah, dan bahwa hadirku di dunia bukanlah suatu kesalahan melainkan sesuatu yang sangat berarti. Kalaupun hanya satu orang saja yang dapat merasa demikian tentangku dan berkomitmen untuk tetap berada di sisiku dalam badai terdahsyat.

Kalau mengubah keadaanku bagaikan pungguk merindukan bulan, biarlah aku mengubah diriku sehingga dengan keadaan ini pun kehidupanku tetap indah dan bermakna. Dan kalau segala sesuatu dalam hidupku ini salah, biarlah setidaknya aku benar dalam dua hal ini: hidup dalam hadirat Tuhan, dan mencintai Harun.

aspirasi untuk bijak  

Posted by: clarissa.kilroy

Belum lama ini seorang bijak mendeklarasikan visinya untuk "menjadikan segala-galanya baik", mengikuti teladan Juruselamat yang menjadikan orang tuli mendengar, dan orang bisu berkata-kata. Ia menegaskan pentingnya ketulusan dalam menghidupi visi tersebut dari hari ke hari. "Ketulusan," ia mengartikan, "adalah sikap memberi diri agar orang lain dapat mencapai tujuannya, walaupun itu menuntut pengorbanan."

Aku terkesima dengan hal-hal yang telah dijadikan Tuhan dalam kehidupannya. Di usianya yang belum setengah baya ia bukan saja telah menjadi pengusaha sukses dan menumbuhkan gereja yang membawa dampak positif di kotanya, tetapi juga telah membangkitkan banyak orang terpuruk menjadi pengusaha-pengusaha yang membawa nafas kehidupan ke tengah masyarakat. Kesaksian hidupnya sungguh menggugah inspirasi. Ia menghidupi cita-cita yang ingin kuwujudkan dalam kehidupanku, dan membuktikan bahwa itu sungguh mungkin.

Cita-cita yang kusimpan ini bukan sesuatu yang dengan mudah akan terwujud dalam beberapa tahun saja. Namun telah enam tahun aku dapat melihatnya dan berkomitmen untuk mewujudkannya suatu saat nanti dalam kehidupanku. Kusadari masih banyak yang harus kulakukan untuk membenahi diri agar dapat menerima penggenapan visi ini, serta mengenal medan yang harus kutempuh. Aku akan maju ke mana kompas hatiku menunjuk, sambil bersabar pada diriku dalam panjangnya perjalanan. 

Layaknya mendaki gunung curam,  pendaki kerap harus naik dengan berkelok-kelok dan kehilangan pandangan akan puncak yang ditujunya... tetapi sesungguhnya ia sedang bergerak mendekatinya. Ia akan tiba di sana kalau ia terus bertekun dalam pendakiannya walaupun puncak itu dan kedekatannya tidak selalu terlihat.

Selama bertahun-tahun aku bergumul dalam pendakian ini. Puncak yang kutuju asing dan tidaklah mudah dijangkau. Seringkali aku harus melewati lereng dan lembah di mana puncak itu tak terlihat. Di tempat-tempat itu mudah untuk berkecil hati, dan satu-satunya penghiburanku adalah citra puncak yang tersimpan dalam mata hatiku. Aku harus setia di jalanku agar jangan kehilangan tujuan yang menjadi bagianku.

Orang bijak yang bercita-cita "menjadikan segala-galanya baik" itu mengingatkanku bahwa pada hari-hari ini bumi tengah digoncang, agar yang tak tergoncangkan tinggal teguh dan menerima suatu kerajaan yang tak tergoncangkan dengan ucapan syukur. Aku telah melakukan bagianku dalam mematikan keinginan-keinginan egoisku, mengutamakan ketaatan pada visi ini, dan membayar harga untuk mempersiapkannya. Oleh karena itu, sepasti penabur yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, sepasti itu jugalah ia akan bersorak-sorai menuai berkas-berkasnya. Syaratnya hanya bahwa aku terus mendisiplin diri untuk bertekun sampai akhir, agar bila saatnya tiba, jangan sampai aku kehilangan porsi yang telah dijanjikan.

Bicara soal persiapan dan ketekunan hingga akhir, aku diingatkan kembali kepada perumpamaan sepuluh gadis. Mereka semua telah berdandan cantik dan bersiap di tempat dengan pelitanya, menunggu mempelai pria yang akan datang entah jam berapa malam ini menjemput permaisurinya. Tetapi hanya setengah dari mereka membawa minyak cadangan untuk pelitanya. Para gadis tertidur menanti kedatangan mempelai pria yang cukup lama. Bila ia tiba-tiba datang, pelita para gadis sudah harus diisi kembali, dan yang lima kehabisan minyak. Namun sekembalinya mereka dari membeli minyak, pintu masuk ke perjamuan kawin telah ditutup, dan kelima gadis yang tidak siap itu ditolak.

Dalam kehidupan kulihat betapa mudah orang berasumsi bahwa mereka akan berhasil, hanya karena mereka telah "berdandan cantik" dan "standby" di tempat yang tepat. Tetapi penantian dan kesergapan menangkap peluanglah yang akan menguji kesiapan kita yang sesungguhnya menerima janji-janji Tuhan.

Aku ingin berpikir bahwa aku telah menjadi salah satu dari gadis bijaksana itu. Walaupun di mata orang kehidupanku masih segini-segini saja, aku percaya aku tidak sedang membuang-buang waktu. Aku belajar, bertekun, dan mengisi waktuku dengan hal-hal yang kupercaya mempunyai nilai kekal, sambil menunggu Tuhan memunculkanku pada waktunya. Aku belajar untuk setia di tempat yang tersembunyi, menggali rahasia-rahasia-Nya, agar dapat bergerak di mana Ia bekerja dan memperoleh perkenanan dalam perjalananku.

Kendati begitu, sejujurnya aku tak tahu apakah realita membuktikanku sebagai gadis bijaksana atau gadis bodoh. Jika aku boleh membumbui perumpamaan ini dengan detail tambahan, aku merasa seperti seorang gadis buta yang tak membiarkan kebutaannya menjadi alasan untuk berpangku tangan. Aku tak tahu apakah aku sudah didandani cukup cantik untuk sebuah perjamuan kawin. Tanganku terus memeras minyak agar aku punya cukup cadangan dalam buli-buliku. Tetapi aku tak tahu apa yang kuperas ini atau sepenuh apa buli-buliku... aku bahkan tak tahu apakah minyak hasil perasanku tertampung dalam buli-buli itu atau tercecer keluar mengenai pakaianku. Ada kalanya aku menjadi lelah, dan memilih untuk tidur. Kuakui aku memang tak sekuat dulu lagi ketika aku pernah bekerja tanpa henti. Istirahat adalah anugerah dan aku boleh menikmatinya. Namun sepertinya setiap kali aku terjaga dari tidurku, aku sedikit iri mendengar tentang teman-teman seperjalananku--yang kini usianya semakin muda--mendekati dan mencapai hal-hal yang pernah kucita-citakan dahulu. Semakin hari sepertinya kudapati diriku bukan menjadi seperti orang-orang hebat yang kehidupannya kukagumi, tetapi makin seperti orangtuaku.

Aku masih berjuang untuk berdamai dengan masa laluku, dan meresapi bahwa kalaupun aku kehilangan segala sesuatu yang kucita-citakan atau kubanggakan, hidupku tetap berharga karena Tuhan ada di dalamnya. Saat tak punya prestasi dan prestige pun aku diuji apakah masih mempuyai kerendahan hati untuk datang pada-Nya mempersembahkan hati yang remuk. Sebab Tuhan dekat pada orang yang remuk hati. Ia yang menciptakanku sanggup memulihkanku kembali pada gambar dan rupa-Nya yang sempurna, asal aku berhenti mengandalkan kekuatanku sendiri dan mulai bergantung pada-Nya.

Namun aku juga tak mau ketergantunganku pada-Nya menjadi suatu alasan untuk bermalas-malasan di zona nyaman. Harga yang harus dibayar atas pemulihan adalah tanggung jawab dan kemandirian. Hal ini pun dilematis bagiku. Di satu sisi telah lama aku berjuang untuk menjadi mandiri, tanpa menghasilkan sesuatu pun yang signifikan. Kemudian aku belajar bergantung kepada Tuhan dan mensyukuri pertolongan-pertolongan yang Ia sediakan bagiku, walaupun dibutuhkan kerendahan hati untuk menerimanya. Kini, di mana aku telah mengalami sebagian signifikan dari pemulihan gambar diriku, aku berjuang untuk bangkit kembali, sambil mencoba mendefinisikan ulang kemandirian tersebut, agar jangan sampai dalam kemandirianku aku lupa akan Tuhan yang menjamin jalan hidupku.

Aku tak suka hidup dalam situasi di mana banyak potensiku sepertinya tak tergali. Orang-orang yang merasa lebih tahu menggelengkan kepala melihatku melewatkan peluang-peluang yang brilian di mata mereka. Banyak orang mau mengeksploitasi potensiku untuk tujuan-tujuan mereka, yang mereka anggap lebih baik dari tujuan yang sedang kukejar. Oleh karena itu aku harus berhati-hati agar jangan sampai aku gegabah melangkah ke mana Tuhan tak mengutusku, sehingga harus mengalami lagi kejatuhan yang pernah kualami. Aku sama sekali tak keberatan kalaupun mahal harga yang harus kubayar--asalkan aku mendapatkan hasil yang setara dengannya. Apapun pilihanku di dalam kehidupan, aku toh akan membayar harga; maka dari itu hendaklah aku membayar tagihan yang tepat.

Seseorang mengatakan, "People don't change, they just become more of who they already are." Mengingat bahwa aku bukan orang yang sempurna, masih adakah harapan untuk bertumbuh dalam keunggulan-keunggulanku, tanpa  semakin menjadi-jadi dalam kesalahan-kesalahanku? Aku takkan berharap akan menjadi sempurna, tetapi setidaknya janganlah pengetahuanku akan idealisme yang lebih baik justru menyiksaku ketimbang mentransformasikanku. Dalam kehidupan ini aku masih akan banyak berbuat kesalahan, tetapi hendaklah bukan kesalahan yang berakibat fatal, yang membuatku kehilangan peluang-peluang kunci. Walaupun aku telah belajar mempersembahkan hati yang remuk kepada Tuhan, setidaknya aku masih ingin mewujudkan keberhasilan dalam hidupku; bukan keberhasilan yang sementara melainkan yang langgeng, permanen, dan berdampak baik bagi sesamaku.

Suatu hari nanti aku benar-benar akan "menjadikan segala-galanya baik"... dan hari ini hal itu pun telah dimulai walaupun kapasitasnya masih jauh lebih kecil dari yang kuimpikan. Aku percaya Tuhan punya rencana yang jauh lebih besar dari yang telah kulihat sekarang, dan aku harus bersabar dengan diriku untuk bertumbuh di dalam penggenapan rencana itu. Sementara itu, aku akan membiarkan Tuhan yang menjadikan segala-galanya baik menjadikanku baik. Sama seperti Ia membuka telinga orang tuli dan menjadikan orang bisu berkata-kata, Ia terus bekerja mencelikkan mata gadis buta ini agar niatnya menjadi gadis bijaksana tercapai. Kadang-kadang mujizat Tuhan memang tidak sempurna sekaligus, karena justru dalam proses itulah Ia mengajar kita bergantung kepada-Nya dan mempersiapkan karakter kita untuk menerima janji yang tak terguncangkan itu. Walaupun aku tak dapat mengerti kebenaran ini dengan sempurna, aku mengenal Ia yang kupercaya, dan tahu pasti bahwa kasih setia-Nya untukku tak pernah gagal. Hariku akan tiba, dan aku pasti menerima penggenapan rencana-Nya yang baik, berkenan, dan sempurna. 

jaded  

Posted by: clarissa.kilroy

Musim festival. Sepertinya ke manapun aku menengok, anak-anak muda sedang berbangga mempromosikan kelahiran konsep dan angan mata batinnya menjadi event-event spektakuler, pementasan-pementasan yang berkesan, dan sumbangsih akademia yang menambah gengsi alma mater. Tak terbaca penat hati, sakit kepala, ataupun keluh kesah di raut-raut wajah mereka yang ceria; hanya antusiasme, ekspektasi, dan tangan-tangan yang tak berhenti bekerja.


Di satu sisi aku kagum. Mereka selayaknya bangga dapat melahirkan prestasi-prestasi yang begitu terpuji di usia yang begitu belia. Walaupun aku tak mengenal semua dari mereka, mereka tetap adalah rekan-rekan seperjalananku yang sedang diperlengkapi di tempat ini. Di masa mendatang mereka akan melihat kembali kepada foto-foto, materi cetak, dan tanda-tanda mata lainnya, menggugah kenangan-kenangan indah serta pelajaran-pelajaran berharga sebagai bekal hidup.

Kurasakan gairah kebeliaan dalam setiap hela nafas mereka. Jiwa remaja mereka begitu merdeka tak berbeban. Keyakinan mereka tak tergoyahkan bahwa jalan yang ditempuhnya adalah benar. Mereka tak merasa perlu sempurna atau tahu segala-galanya untuk berhasil mencapai signifikansi--cukup bermodalkan kreativitas dan keberanian untuk maju. Impian mereka sudah di depan mata dan mereka tinggal melangkah menuju ke sana.

Namun di sisi lain, ada sesuatu yang begitu menusuk jantungku dalam pemandangan dan bunyi-bunyian ini. Lima sampai sepuluh tahun yang lalu aku pernah seperti mereka. Lima sampai sepuluh tahun yang lewat terlalu cepat. Dan sepertinya aku masih saja berjalan di tempat hingga saat ini.

Sesulit itukah mewujudkan suatu kehidupan yang maksimal dan berarti? Atau akukah yang selama ini salah mendefinisikannya?

Little things overwhelm me. Hal-hal sederhana yang seharusnya tak sulit kucapai, tetapi untuk satu dan lain hal tak terwujud. Bukan karena malas, tetapi karena aku telah membuat pilihan-pilihan yang bodoh sehingga harus menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk membayar harganya. Aku menjadi lebih hati-hati dalam membuat keputusan, sebab aku tak mau lagi mendedikasikan diriku pada kebodohan yang sia-sia dan hidup dalam kebohongan angan-angan.

Terlalu mudah untuk para pembicara motivasional mengatakan bahwa perbedaan orang sukses dengan orang yang biasa-biasa saja adalah apa yang mereka kerjakan dalam 24 jam setiap harinya. Mereka tidak mempertimbangkan sebab dan akibat dari pilihan-pilihan yang mengisi keduapuluh empat jam itu. Sebab tergantung dari latar belakang dan situasi masing-masing orang secara spesifik, pemakaian 24 jam secara bijaksana tidak seharusnya pukul rata.

Realita yang sulit menyadarkanku bahwa di usia 24 tahun aku sepertinya bukan sedang menjadi semakin seperti orang hebat berprestasi dan sumbangsih besar, tetapi semakin seperti orangtuaku. Aku pernah bertekad bahwa ini takkan pernah terucap dari mulutku, apalagi terjadi dalam kehidupanku. Bukan karena aku tak mensyukuri orangtuaku apa adanya, tetapi karena aku adalah seorang individu dengan kepribadian, cita-cita, dan tujuan hidup yang berbeda.

Mengapa aku harus jatuh dulu baru sadar? Sebodoh itukah aku? Apakah aku begitu tolol sehingga dalam usahaku yang gagal untuk mencetak prestasi-prestasi kecil saja harus jatuh dengan muka ke tanah?

Aku terkoyak antara dua kepercayaan. Di satu sisi aku percaya bahwa aku tak harus mengikuti definisi dunia akan cream of the crop, karena akulah yang mengenal isi hatiku dan memaksimalkan langkah-langkah mewujudkan visi hidupku di dunia. Aku tidak mencari pemuasan ego melalui harta berlimpah, karir hebat, status bergengsi, kecantikan lahiriah dan sejuta narsisisme lainnya; karena yang penting dalam hidupku adalah bergerak di mana hati Tuhan berada dan meninggalkan karya-karya kekal di hati orang-orang yang kukasihi. Rasa amanku bukan pada apa kata dunia tentangku, tetapi pada perkenanan Tuhan padaku.

Walaupun begitu, fokus untuk hidup menurut kata hati dan kepercayaan pada perkenanan Tuhan tidak berarti aku tak melakukan apa-apa untuk mengejar suatu prestasi lahiriah. Aku tetap perlu berjuang membuat terobosan dalam karirku, mencukupi kebutuhan finansialku sendiri, dan tampil dengan sesuatu yang konkret untuk ditawarkan kepada masyarakat. Aku tak nyaman menjadi mahasiswa frustrasi di usia 24 dengan pelayanan level perintisan dan tak punya penghasilan tetap. I want something more, tetapi merasa bahwa aku harus setia menggarap apa yang ada dalam tanganku sebab pekerjaanku di sini belum selesai.

Belum lama ini aku membaca sebuah kutipan, "God, if I can't have what I want, let me want what I have." Hanya saja, I still don't know how I could want what I have without getting too comfortable, lest I don't work out what's really best for me. 

But then, do I really know what's best for me? Dulu kupikir demikian, hingga mereka yang seharusnya dapat kupercaya justru menyalahgunakan kepercayaanku dan meninggalkanku berdarah-darah. Kini aku masih berusaha mempercayai hatiku lagi, tanpa menimpakan kesalahan orang-orang terdahulu kepada rekan-rekan yang baru.

Egoku sulit menerima bahwa anak-anak kemarin sore yang masih naif berleha-leha gembira dalam pekerjaannya, berpikir bahwa masa depan yang menantinya cerah. Lantas beberapa bulan kemudian, mereka berhasil mengerjakan hal-hal yang pernah ingin kukerjakan namun tak pernah kesampaian. Sementara itu, sepertinya dari dulu aku selalu berusaha melangkah lebih jauh, bergerak lebih cepat, dan bekerja lebih unggul... namun seakan tak menghasilkan apapun yang permanen. I kept the rules and got nothing; while they break the rules and get everything. Rasanya dunia ini sungguh tak adil.

Hidupku sejauh ini mungkin tidak sedikitpun hebat, penuh dengan rasa minder. Aku hanya bisa tersenyum tegar dan menampilkan aura yang hangat sembari menulis di atas setiap telapak tangan yang kujabat bahwa mereka sungguh berharga. Aku mencoba berdamai dengan keadaan, bahwa aku adalah aku dan mereka adalah mereka. Jalan kami hanya dipertemukan oleh jabat tangan dan tatap mata yang sekejap, lalu tikungan kembali membelokkan kami kepada tujuan masing-masing. Takkan selamanya aku terbelenggu apatisme yang egois dan sedikit sinis ini. Aku hanya memilih untuk jujur mengakui isi hatiku, agar dapat memperoleh pertolongan dan dukungan untuk berubah. Aku akan berubah, dan menerima berkat yang menjadi porsiku. Perjalanan hidupku masih panjang dan masih ada harapan untuk mencetak hari depan yang penuh arti.

01:30  

Posted by: clarissa.kilroy

malam ini kusebut namamu

terucap dari bibir sahabat-sahabatku
kata-kata indah tentangmu

aku belajar mengenalmu
menembus gerbang hatimu
arungi kedalamanmu

jumpai aku dengan sejuk matamu
hangat rangkulmu
bimbing aku ke tempat itu

kendati kau belum jadi milikku
langkahmu terjejak di kalbuku
hingga waktu membawa kita bersatu

history  

Posted by: clarissa.kilroy

tears are

the water which grows this garden
the ink with which our story is written
the river leading to our ocean

time is
the earth of sorrow on which this love blooms
the book of thanksgiving on which our days are witnessed
the heartbeat of joy that draws me near to you

the season is changing
the tears have not

the day shall come that these tears will return to whom they belong

singgahnya rajawali senior  

Posted by: clarissa.kilroy in

Dari tebing pertamaku kuamati beberapa tebing lain, bukit, dan gunung yang mengantarai tempat ini dengan Puncak Jaya. Kalau saja aku dapat terbang melalui puncak-puncak tersebut, aku akan semakin dekat dengan Puncak Jaya. Kupanggil beberapa calon pemimpin kawanan rajawali  untuk mencermati rute tersebut. 


"Kami belum pernah sampai di Puncak Jaya, ataupun puncak-puncak persinggahan lainnya di tengah jalan. Tetapi rute ini kelihatan masuk akal, dan bersama-sama kita berkomitmen mencapainya," kata mereka.

"Kami akan makan minum apa dalam perjalanan?" tanya seekor.

"Alam yang terbentang antara tempat ini dengan Puncak Jaya sangat luas. Sebenarnya banyak tumbuh-tumbuhan atau mangsa yang dapat kita makan, dan mata-mata air tersembunyi yang darinya kita dapat minum. Siapa di antara kalian sedikit mengenal kawasan ini? Tolong terbang sedikit rendah untuk meneliti persediaan makan-minum di sekitar sini, lalu laporkan kembali kemari supaya kita bisa mengatur cukup energi dalam perjalanan."

"Jangankan dalam penerbangan ke Puncak Jaya; untuk terbang ke tebing berikutnya saja jaraknya sudah cukup jauh sehingga perubahan cuaca dan gejala alam takkan terhindari. Bagaimana cara membaca cuaca supaya penerbangan kita tetap aman, dan di mana poin-poin berlindung apabila cuaca menjadi tidak aman untuk terbang?" tanya seekor yang lain.

"Kita adalah rajawali, telah dibekali Pencipta naluri membaca cuaca. Dengan mengarungi perjalanan ini kita melatih naluri kita. Berbeda dengan burung-burung lain, rajawali tidak bersembunyi dari badai dan topan, melainkan terbang tinggi mengatasinya. Apabila bahaya datang, kita hanya perlu menebarkan sayap dan mengendarai energi tersebut untuk membawa kita terbang lebih tinggi dan jauh, semakin mendekati tujuan."

"Wah, banyak betul pekerjaan yang harus dilakukan agar strategi perjalanan kita terlaksana! Kita butuh lebih banyak rajawali agar memastikan semua pekerjaan terselesaikan dengan baik dan benar sampai di tujuan," tanggap rajawali yang lain.

"Betul, tapi saya sarankan kita sama-sama membenahi karakter, komitmen, kompetensi, dan kapasitas tim yang ada dulu, baru kita mengajak rajawali-rajawali lain serta mengajarkan pada mereka filosofi kerja yang sama."

Kami pun berbagi tugas. Namun apa hasilnya?

"Ada tanaman anu dan kawanan binatang itu di sana-sini, tapi saya bingung cara menerangkan jalan menuju ke sana."

"Saya tahu bagaimana melakukan mengepakkan sayap untuk mengendarai angin, tapi rajawali-rajawali junior tidak menanggapi dengan serius ketika dilatih."

"Kami sangat ingin membenahi karakter, komitmen, kompetensi, dan kapasitas supaya bisa meningkatkan etos kerja--tapi sepertinya ambang batas kami sudah sampai di sini."

Aku sangat sedih, tetapi memilih untuk bersabar karena perjalanan ini bukan soal mencapai Puncak Jaya semata, melainkan soal memperkaya kehidupan rajawali-rajawali yang akan terbang bersamaku ke sana. Walaupun maksudku baik, aku harus sangat berhati-hati agar jangan sampai mereka merasa dimanfaatkan untuk kepentinganku semata. 

Seorang pemimpin memang tak boleh memanjakan kemalasan pengikutnya, melainkan hadir untuk membentuk mereka pada kapasitas yang lebih besar. Untuk itu caranya bukan dengan berjalan di depan dan menuntut mereka mengejarku, melainkan untuk mulai pada level kemampuan mereka dan meningkatkan kecepatan secara bertahap.

Melihat kembali perencanaan perjalanan, aku tahu kita tak akan mencapai tebing berikutnya tepat waktu. Padahal aku telah berjanji pada rajawali senior akan membawa kawanan rajawali ini ke sana untuk berjumpa di dengannya pada waktu tersebut. 

Aku menghela nafas. Ach, kenapa harus pada waktu tersebut? Bukankah jauh lebih penting bahwa kawanan rajawali ini terbang dalam keadaan siap dan menikmatinya? Namun bagaimana aku dapat menjamin keselamatan kawanan ini kalau aku sendiri masih harus banyak belajar? Aku tak ingin satu rajawali pun tewas hanya karena kebodohan yang dapat dicegah dengan belajar lebih banyak.

Kuputuskan untuk menunda perjalanan demi mendirikan sebuah boot camp di tebing ini. Dengan demikian rajawali-rajawali pemimpin dapat mematangkan strategi kapasitas mereka, dan rajawali-rajawali junior dapat terpenuhi kebutuhannya. Kawanan menyambut gagasan tersebut.

Di antara mereka banyak yang pulang diam-diam tanpa berpamit. Sementara itu aku merangkul rajawali-rajawali yang setia untuk berdoa. Bagi kami perjalanan ini begitu besar, jauh melampaui pengertian ini. Namun bagi Tuhan yang menciptakan kami, segala ketidakpastian kami dapat terselesaikan dengan mudah. Yang harus berubah bukan keadaan, melainkan kami dan kapasitas kami melibatkan Tuhan dalam perjalanan ini.

Sebagian dari rajawali yang tinggal bertanya, mengapa kami menghabiskan banyak waktu untuk berdoa bersama? Doa sepertinya tak ada hubungannya dengan mendekatkan kami pada tujuan, dan hal itu dapat dilakukan sendiri-sendiri di waktu luang. Aku tersenyum menanggapinya. Tuhan yang kami dekati dalam doa memang bukan seorang Tuhan yang terbatas pada logika dan pekerjaan lahiriah, tetapi rindu menantikan kami mencari-Nya dalam hati kami. Kalau memang Dia adalah prioritas, seperti kami sepakati selama ini, tidak cukup membangun hubungan dengan-Nya secara pribadi saja kemudian mengamputasi kedaulatan-Nya ketika kami berusaha bekerja bersama. Padahal jelas-jelas kemampuan kami segitu-gitu saja. Kalau Dia memang prioritas, baiklah kita membuktikannya bersama-sama dengan mencari wajah-Nya dan membiarkan-Nya bergerak sesuai dengan waktu dan irama-Nya.

Hal ini tidak nyaman untuk mereka. Tidak juga untukku. Namun sebuah paradigma baru bertumbuh dalam hati kami. Paradigma yang kekal, yang akan selamanya mengubah cara kami mengatasi tantangan-tantangan kehidupan.

Usai kami berdoa, rajawali seniorku datang dengan wajah berseri-seri. Aku merangkulnya, sebab aku memang rindu padanya. Kami tak pernah berjanji bertemu di sini, tetapi singgahnya yang tiba-tiba merupakan suatu kejutan yang membawa anugerah. 

Aku tahu rajawali seniorku sedang menghadapi porsi tantangannya sendiri. Namun ia bergembira menerima berita tentang kami yang memutuskan untuk menghentikan semua kegiatan demi mencari Tuhan. Aku pun bergembira mendengar bahwa Tuhan menyertai rajawali seniorku dengan perkenanan dan kebesaran-Nya. Rajawali seniorku masih bersama kami--hanya saja ia perlu terbang mendahului kami agar dapat membekaliku dengan petunjuk-petunjuk yang akan membawa kawanan kami ini dengan selamat sampai di tujuan.

Ia merangkulku dan membawaku dalam doa. Kemudian ia berpamit lagi untuk meneruskan perjalanannya serta memberiku waktu mempersiapkan kawananku.

Aku merasa mendapat kekuatan baru. Namun pada akhirnya kusadari perjalanan ini bukanlah soal rajawali-rajawali unggulan manapun. Bukan tentang rajawali senior, bukan tentang rajawali-rajawali pemimpinku, bukan tentang rajawali-rajawali junior, dan bukan tentang aku. Perjalanan ini adalah tentang Tuhan yang kebesaran-Nya akan dinyatakan dalam hujan badai yang kami kendarai, lembah jurang di bawah kami, dan puncak-puncak di hadapan kami. Perjalanan ini menyadarkan kami betapa kami yang kecil dapat menaklukkan hal-hal besar karena kemahakuasaan Tuhan yang menyertai kami.

Akan dibutuhkan waktu dan perjuangan untuk meresapi kebenaran ini. Namun itulah yang perlu tergenapi terlebih dahulu sebelum kami berjerih payah menyusun dan menjalani perjalanan ini. Tuhan yang memimpin kami seringkali muncul belakangan, tetapi Ia tak pernah terlambat. Dan aku akan bersabar hingga Ia mengepakkan sayap-Nya dan memimpin kawananku ke Puncak Jaya itu: tebing demi tebing, bukit demi bukit, gunung demi gunung.

(To be continued)

rintihan rajawali cidera  

Posted by: clarissa.kilroy in

Mengapa aku diberi impian-impian yang besar? Suatu pengharapan akan sumbangsih kepada umat manusia serta masa depan yang luar biasa? Apa untungnya aku memiliki semuanya itu?


Selama ini aku terpikat oleh pesonanya, namun tak kuasa menggapainya. Bagai rajawali dalam sangkar rindu menebarkan sayapnya melintasi tebing-tebing megah yang terpisahkan oleh jurang tak berujung.

Banyak yang sepertinya puas dengan sangkar yang memenjara mereka. Ada yang sangkarnya kecil dan menyedihkan; tetapi ada juga yang seperti terbuat dari emas, besar, megah, nyaman, dan bergengsi. Namun intinya tetap sama: mereka terkungkung di dalamnya dan tak pernah terbang menggapai tujuan hidupnya. Mereka tak merasa perlu. Lagipula mereka aman dalam sangkar itu dan terpelihara dengan "cukup baik".

Untuk apa merindukan bebasnya menerjang angin dari satu puncak gunung ke gunung lainnya, kalau ada sangkar nyaman yang melindungi? Banyak sangkar lain di sekelilingku yang cukup senang dengan keterbatasan mereka dan tidak merasakan frustrasi kerinduan menaklukkan langit dengan kepakan sayapnya.

Kalau Tuhan memberi kerinduan itu dalam hatiku serta potensi untuk bertumbuh dalam penggenapannya, mengapa usahaku mengejarnya menjadi salah?

Aku tahu mengapa aku sedang berada dalam sangkar. Cidera parah dari pergulatanku beberapa tahun kemarin membuatku perlu beristirahat di tempat yang aman dan mempercayai pemeliharaan orang-orang yang mengasihiku. Aku masih perlu beberapa tahun lagi untuk memulihkan diri, sambil melatih sayapku berkepak kembali dan bertahap memperjauh jarak terbangku. Aku akan bersabar dengan diriku, sebab tidak selamanya aku akan terpenjara sangkar ini. Hari pelepasanku akan tiba dan aku akan menaklukkan bagianku.

Beberapa waktu lalu rajawali yang tak kukenal mengunjungi sangkarku. Ia melihat sesuatu yang berharga dalam rajawali ini yang mulai dapat terbang sedikit-sedikit. Aku tak ingin mengenalnya, namun aku melihat dalam sebagian dirinya suatu proyeksi akan rajawali yang ingin kumenjadi suatu hari kelak. Rajawali besar yang memperhatikan rajawali-rajawali di sekitarnya dan merangkul serta memperlengkapi mereka untuk perjalanan-perjalanan megah, sebagaimana mereka diciptakan untuk menaklukkan.

Rajawali itu membuka sangkarku dan merayuku keluar ke ujung tebing, kemudian mendorongku. Dengan panik aku meronta-ronta mengepakkan sayapku. Seekor rajawali terbang di sampingku. Dua ekor. Tiga ekor. Enam puluh tujuh ekor. Kutemukan keseimbanganku. Kutebarkan sayapku, mengendarai angin sesuai naluriku. Dengan bimbingan rajawali senior dan dukungan rajawali-rajawali yang lebih kuat aku pun berhasil memimpin keenampuluhtujuh ekor rajawali tersebut mendarat dengan selamat di tebing terdekat.

Aku tak ingat banyak momen dalam hidupku yang sebahagia itu. Kekuatanku telah berangsur-angsur pulih dan aku telah menaklukkan suatu wilayah baru di luar dugaanku. Perjalanan yang sungguh berharga, dan aku dapat berbagi kebahagiaan ini dengan sahabat-sahabat baru yang kukasihi. Rajawali senior itu sungguh berjasa.

Walau demikian perjalanan belum selesai. Masih ada gunung-gunung lain yang harus ditaklukkan. Anginnya akan ganas. Sayap kami akan kelelahan. Lembah jurang di bawah kami tampaknya amat tandus. Dari mana aku akan memberi makan-minum rajawali-rajawali yang ikut denganku? Banyak di antara mereka masih kecil dan butuh bimbingan. Bukan berarti aku sudah besar, tetapi aku tetap bertanggung jawab atas keselamatan mereka dalam perjalanan ini. Setidaknya aku harus tahu medan sehingga bisa menyusun strategi perjalanan. Namun tempat ini kelihatan begitu asing bagiku.

Dari sini sudah terlalu jauh untuk pulang. Sayapku yang terluka perlu dibalut lagi, dan kakiku sulit berdiri. Namun tak kulihat tanda-tanda sang rajawali senior masih beserta denganku. "Aku akan menemuimu di Puncak Jaya," ia sepertinya berkata sambil mengepakkan sayapnya. "Di sana sangat indah; kau harus sampai di sana, jangan sampai tidak membawa banyak rajawali sebab mereka takkan melupakan perjalanan tersebut." Ya, tak jauh dari cakrawala, dapat kulihat ujung cantik Puncak Jaya. Aku hanya tidak mengenal medan menuju ke sana, dan belum pernah kutemui rajawali yang telah sampai ke sana, walaupun aku sudah mendengar bahwa tempat itu dapat dijangkau oleh mereka yang pantang menyerah.

Aku harus tiba di Puncak Jaya. Aku harus membawa rajawali-rajawali lain ke sana, karena kehidupan mereka akan berubah selamanya dan mereka akan berterima kasih atasnya, sama seperti aku berterima kasih kepada rajawali senior yang telah menunjukkan dunia baru yang sebelumnya tak pernah kubayangkan dapat kutaklukkan. Aku tak bisa pulang begitu saja dengan tangan kosong.

Sayapku kesakitan, tak sanggup terbang jauh. Kabut tebal merabunkan mataku, padahal rajawali-rajawali yang bersamaku bergantung padaku untuk menunjukkan jalan.

Di manakah engkau hai rajawali senior? Kepakan sayapmu begitu cepat kendarai angin menuju negeri yang penuh asa...

(To be continued)

should i apologise?  

Posted by: clarissa.kilroy

Kita semua pernah mendengar cerita semacam itu. Kolega yang ketika sekolah sepertinya sangat pintar kemudian memble dalam karirnya atau tewas dalam berbisnis. Sementara si idiot yang tidak dianggap di bangku sekolah dan kandas studinya justru berhasil menjadi seorang milyuner yang mencetak sejarah dan berpengaruh dalam kehidupan umat manusia.


Aku melihat banyak contoh orang di luar sana yang pendidikannya tidak tinggi, tetapi keberhasilan mereka dalam kehidupan melampaui "para ahli" yang dalam kesombongan mereka berteori mengatakan bahwa hal-hal yang mereka capai tidaklah mungkin. Padahal jauh lebih berguna "orang bodoh" yang meninggalkan karya signifikan daripada "orang pandai" yang berteori. Pepatah mengatakan bahwa orang yang tidak dapat mengamalkan ilmunya sama seperti pohon yang tak berbuah. Aku tak ingin menjadi orang seperti itu.

Seandainya aku bisa memilih, aku akan jauh lebih memilih untuk menjadi orang yang street smart ketimbang yang  book smart. Bagiku IPK tinggi, lulus cum laude, dan gelar-gelar honorifik akademia tidak berarti dibandingkan apa yang sungguh-sungguh kucapai dalam kehidupan. Kalau aku mendapatkan semua itu tetapi tewas di lapangan ketika menghadapi real life, sia-sialah kerja kerasku.

Namun kenyataanku Tuhan memberiku karunia lebih secara intelektual. Aku tidak meminta maaf atas karunia intelegensia, logika, dan analitis yang diberikan-Nya kepadaku. Ayah dan kakekku adalah ilmuwan yang dihormati karena sumbangsih mereka kepada negeri ini di bidang ilmu pengetahuan, dan mereka menurunkan padaku warisan kecendekiaan yang amat berharga. Hanya saja, aku tidak ingin mengulangi kesalahan mereka dalam konsep-konsep yang salah dalam "hidup sederhana", kegagalan dalam manajemen keuangan, dan kesombongan nalariah yang membuat mereka tetap kerdil secara rohani. I know better than that.

Hidupku berubah ketika Tuhan menjamahku dalam kemahakuasaan-Nya dan menyatakan visi-Nya untuk kehidupanku. Aku ingin mengerjakan hal-hal yang besar untuk memasyhurkan nama-Nya dan mendamaikan generasi ini dengan-Nya. Aku ingin saudara-saudara segenerasiku merasakan dan menikmati detak jantung Tuhan yang memberiku pengharapan hidup, agar mereka melihat bahwa Dia mengasihi mereka dan rindu hadir dalam kehidupan mereka.

Dengan pewahyuan seperti itu, tentulah aku tidak diberi-Nya satu pun karunia secara percuma, namun itu semua telah diberikan-Nya dengan ikhlas untuk memperlengkapiku dalam memenuhi panggilan-Nya untukku. Seiring jalan hidupku aku mulai menyimpulkan bagaimana setiap talenta akan berperan dalam pemenuhan panggilan itu. Yang pasti, panggilan hidupku tidak jauh-jauh dari dunia pendidikan, karena memang dalam lingkungan intelektual aku dibesarkan dan besar bebanku untuk membawa bangsaku pada pencerahan yang memerdekakan mereka dari pembodohan berkedok globalisasi.

Jika aku akan membuat terobosan, maka tidaklah cukup aku kuat secara intelektual saja, melainkan juga secara kepemimpinan, keuangan, dan rohani. Kepemimpinan untuk merebut hati orang-orang yang berpotensi menjadi bagian dari terobosan itu, antara lain orang-orang yang jitu menentukan strategi tetapi juga street smart di lapangan. Keuangan untuk membiayai tindakan-tindakan yang harus diambil dan menanggung kebutuhan hidup orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk visi-misi ini. Kerohanian, karena Tuhanlah sumber visi ini dan Dia akan menyelesaikan pekerjaan yang kita mulai dengan iman untuk kemuliaan nama-Nya.

Aku ingin berpikir bahwa aku berada di jalur yang tepat untuk memaksimalkan diri dalam ketiga hal tersebut. Namun kini aku diperhadapkan pada pahitnya kenyataan bahwa aku belum cukup banyak belajar untuk dapat memimpin tim dengan visi sekian besar.

Masa hidupku di Eropa merupakan pukulan terbesar yang menyadarkanku, bahwa percumalah semua bekal intelektual yang diturunkan orangtuaku kepadaku, karena mereka tidak memperlengkapiku dengan cukup life skills untuk dapat bertahan dalam kejamnya kehidupan Eropa. Mungkin mereka berasumsi bahwa life skills adalah sesuatu yang otomatis; semua orang lain bisa, apalagi anaknya yang "pintar". Bagiku adalah sesuatu yang sangat memalukan bahwa hidupku porak poranda karena kesalahan-kesalahan kecil yang kubuat dengan demikian innocent. Bagi orang lain, kesulitan-kesulitan yang kuhadapi akarnya sebenarnya sepele saja, dan benang kusut yang melilitku sebenarnya dapat dicegah--bagaimana aku bisa demikian bodoh dengan mengizinkan kegagalan yang seperti itu?

Semenjak itu aku bersikap apatis terhadap pendidikan formal. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau intelektualitas akademia tidak memecahkan satu pun masalah yang kuhadapi? Dalam keterpurukanku aku mencari solusi di luar keempat tembok kampus, hanya untuk memancing murka orangtuaku yang tidak melihat bukti-bukti keberhasilan dalam studi putri sulungnya.

Namun pada akhirnya darah juga yang mendikte ke mana aku harus pergi. Untuk bangkit dari keterpurukanku, aku kembali lagi berduel dengan kampus untuk kelima kalinya. Bukan untuk ilmunya, melainkan untuk memulihkan gambar diriku dan untuk menjadi suatu surat terbuka untuk rekan-rekan seperjalananku: bahwa jika engkau gagal, tak ada yang salah dengan memulai kembali sebab dari kerendahan hatimu Tuhan akan mengangkatmu menjadi manusia baru yang lebih kuat, dan orang-orang yang menyaksikan kisahmu akan terberkati olehnya.

Nyatanya, kehidupan kampus memang membuatku sedikit lebih bahagia. Aku dididik untuk mencintai pendidikan, dan kembalinya cinta pertama itu membuat hari-hariku indah. Terkadang aku sedih mengingat betapa aku kehilangan suatu fase manis dalam hidup dengan menutup diri terhadap kampus. 

Namun aku juga hidup dalam suatu kesadaran, bahwa jika aku tidak melakukan sesuatu untuk meningkatkan kerohanianku dan menjadi street smart dalam melayani, memimpin, dan berbisnis, maka dua tahun dari sekarang aku bisa menemukan diriku sebagai sarjana yang kehilangan arah. Aku anak sulung, usiaku sudah hampir dua puluh empat, mempunyai seorang adik, dan ayahku sebentar lagi akan pensiun. Tanggung jawab akan kembali padaku untuk memelihara mereka, tetapi untuk itu aku harus terlebih dahulu mampu memelihara diri sendiri--sesuatu yang belum mampu kulakukan sekarang. Jika aku tak dapat memenuhi kebutuhan keluargaku, aku tak bisa berangkat untuk mengemban tanggung jawab yang lebih tinggi untuk melayani dan mencerahkan masyarakat. 

Yang pasti, aku tak mau menjadi korban zona nyaman masyarakat, dan aku tak mau terbelenggu tanggung jawab memelihara keluargaku semata. Jika panggilanku hanya sebatas itu, tentulah Tuhan tidak memberiku idealisme, kepedulian sosial, dan gairah hidup yang ada padaku. Aku tidak meminta maaf atasnya, dan aku menutup telinga pada orang-orang yang menuduhku terlalu idealis atau perfeksionis. Aku tidak salah. Aku mengenal siapa Tuhanku dan berkomitmen untuk membawa kerajaan-Nya menjadi sesuatu yang nyata dalam hati setiap orang yang Ia percayakan kepadaku. Aku menolak membatasi visiku dengan apa kata orang tentang realita. Bagiku realita adalah firman Tuhan yang terlalu besar untuk dimengerti otak picik manusia terpintar sekalipun. Hanya saja, adalah tanggung jawabku untuk menindaklanjuti iman tersebut dan melahirkan bukti-bukti nyata kemahakuasaan-Nya ke dalam duniaku, dengan erangan sakit bersalin.

Terkadang aku benci melihat hidupku. IPK tinggi, berhasil secara akademia. Tetapi secara kehidupan nyata, I am nothing. Aku bahkan tak sanggup menghidupi diriku sendiri. Dari bertahun-tahun lalu kukatakan aku akan membangun karir, namun sepertinya jalan ke sana selalu tertutup. Kini pun aku sedang berusaha merintis suatu usaha berorientasi pelayanan (atau pelayanan berorientasi usaha?) yang kuyakini sangat sejalan dengan visi-misi hidupku... namun kenyataannya aku tidak cukup street smart untuk menjadikan konsep-konsep indahnya nyata, juga aku tak tahu dari mana modal akan datang serta apa risiko dari perjuangan ini. Aku belum melihat bukti-bukti keberhasilan dari apa yang kuperjuangkan, dan terkadang bertanya-tanya apakah bijaksana bagiku bahkan untuk pernah memulainya?

Seandainya orang-orang di sekitarku mengetahui apa yang kuketahui tentang kehidupanku, apakah mereka akan berkata bahwa aku tidak lebih baik daripada setahun, dua tahun, lima tahun, dan bahkan sepuluh tahun yang lalu?

Yes, I know, my approval comes from God and not from people. Sure, God will make a way. Somehow. It's about who I am and not what I do. Great, I'm destined for a great future. Yeah, yeah, yeah. Blah, blah, blah.

Tidakkah gereja mempunyai jawaban lain yang lebih riil? Alangkah mudahnya orang Kristen bersembunyi di balik "iman" untuk menyembunyikan kebodohan dan ketidakrelevanannya dengan dunia nyata!

I want to hang out with Christians who say that it's OK to love God and be successful and rich and intelligent, because achievement and wealth and education do bless others and have something to say about who God really is.

My God is not a poor dumbass failure, and you insult my God when you tell me that I should be a poor dumbass Christian.

And no, I don't apologise for being intellectual. I simply have learnt not to be proud of it, and  refuse to have the comfort of my cerebral intelligence sabotage me from enjoying the joys and pains of real life. God gave me a brain so I can bless others with it, and I shouldn't be sorry about it.

Am I expecting too much if I ask for someone who understands, who can show me where to go from here so I don't end up making the same mistakes?